Strategi Pendidikan di Jepang Terpisah, Antara Nasional dan Internasional

- Sabtu, 17 Desember 2022 | 11:22 WIB
Jepang yang tak lepas dari sistem pendidikan nasional dan internasional (Cats Coming via Pexels)
Jepang yang tak lepas dari sistem pendidikan nasional dan internasional (Cats Coming via Pexels)

Strategi pendidikan di Jepang melibatkan nasionalisme dan kosmopolitanisme yang ambigu. Mereka menulis ulang buku pelajaran berikut dengan mengkaji apa yang disebut dengan patriotisme, seperti mengasingkan tetangga Asia mereka dalam prosesnya. Tapi di sisi lain mereka mempromosikan universitas Jepang secara terbuka dan global, sebagai persaingan internasional.

Baca Juga: Pemahaman yang Perlu Anda Ketahui Tentang Bencana Alam Sebagai Antisipasi Penyelamatan Diri

Menurut Profesor Thomas Berger dari Boston University ada kontradiksi antara kebijakan pendidikan di Jepang dan kerja kerasnya untuk internasional. Kebijakan pendidikan di Jepang dalam buku pelajarannya meningkatkan tensi di Asia menurunkan keinginan orang Jepang untuk belajar di negara tetangga dan orang luar untuk datang ke Jepang. Perdana Menteri Shinzo Abe memiliki agenda untuk mengganti sejarah perang dengan sedikit unsur permintaan maaf. Dalam versi sejarahnya, Jepang sebagai penyerang di Perang Dunia II diganti dengan materi yang lebih “patriotis.”

Kritikus mengatakan pemerintahan baru mencoba untuk mengagendakan sistem sekolah nasional yang berisi haluan kanan dan pembenaran. Misalnya saja pemerintah mendukung buku pelajaran yang menyatakan Nanjing massacre di Cina sebagai insiden. Di saat yang sama sistem pendidikan Jepang didorong untuk go internasional. Shinzo Abe menyatakan bahwa ia ingin 10 universitas Jepang masuk dalam 100 besar universitas di dunia. Terakhir hanya ada dua yang masuk ke dalam daftar Times Higher Education yaitu University of Tokyo dan Kyoto University.

Pemerintah Jepang merencanakan untuk menguatkan staff pengajar pada universitas dengan merekrut professor dari luar negeri, melalui sistem evaluasi sertifikasi dan meluaskan sumber daya. Ada juga dorongan untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara yang tidak senang dengan buku pelajaran baru mereka, seperti Amerika Serikat, Cina, dan Korea Selatan. Sejarah yang diajarkan dalam sekolah-sekolah Jepang ditakutkan akan membuat anak-anak mengenal nasionalisme yang seperti dalam sejarah perang yang diajarkan.

Menteri Pendidikan Jepang, Hakubun Shimomura menyangkal anggapan bahwa pemerintah mendorong pandangan sejarah yang berbeda dalam buku sekolah. Dia mengatakan bahwa buku tersebut telah dibuat berdasarkan ahli dan akademisi.

“Sejarah dapat positif atau negatif. Kami percaya ini penting untuk mengajarkan keseimbangan antara bagian yang baik dan juga bagian yang buruk sehingga anak-anak dapat bangga dan percaya diri pada sejarah negaranya,” ungkap Shimomura melalui The International New York Times.

Editor: Frida Firdiani

Tags

Terkini

Budaya Kerja di Jepang Super Ketat?

Senin, 26 Desember 2022 | 22:34 WIB

Anak Cerdas yang Melampaui Einstein

Sabtu, 24 Desember 2022 | 05:02 WIB

Tradisi Natal Unik di Berbagai Belahan Dunia

Jumat, 23 Desember 2022 | 06:35 WIB
X